LUKA MEMBAWA KEBAHAGIAN

    Setiap hari hujan turun begitu deras, aku benci hidupku yang seakan-akan mempermainkanku. Tiada seorang pun yang peduli padaku, tak terkecuali Ibu yang selalu mengurusi hidupku dengan senang hati. Kadang aku bertanya apakah memang seperti ini takdirku lahir dalam keterbatasan fisik tidak mempunyai kedua kaki membuat keluargaku enggan menganggapku karena mereka malu. Jika bisa meminta kepada Tuhan akupun tidak ingin lahir seperti ini.
    
   "Fiaaa cepat turun ayo makan" ucap ibu memanggilku untuk makan malam bersama. Begitu aku keluar dari kamar aku bertemu dengan adikku yang lahir dalam keadaan sempurna dan selalu di sayang dalam keluarga, Dita  lalu dengan sengaja mendorong aku hingga hampir saja aku jatuh apabila ibu tidak dengan sigap menolongku.
   
   "Dita kamu tidak boleh seperti itu, dia kakakmu" kata ibu memarahi Dia.
   
   "Ah Ibu Dita tidak sengaja lagian kakak itu jalannya lama sekali Dita lapar nih” ucap Dita sambil membela diri.
   
Ketika Ibu memarahi Dita datang Ayahku yang kemudian memarahi diriku bukannya Dita "Dasar gatau malu kamu, sudah salah tapi menyalahkan Dita sudah kamu tidak usah ikut makan." Setelah mengatakan hal itu Ayah kembali ke meja makan sambil membawa Dita. 

   Aku yang sudah terbiasa dengan sikap Ayah yang 
selalu seperti itu kepadaku hanya bisa menahan tangisan dalam hati, sadar akan diriku yang akan menangis Ibu langsung saja menyemangatiku dan mengajakku untuk makan "Sudahlah tak usah didengarkan apa kata Ayahmu itu, ayo makan sini Ibu bantu untuk turun"
  
   Hampir setiap pagi selalu terjadi keributan di rumahku penyebabnya ialah aku, Ayah selalu menyuruh aku untuk bersih-bersih rumah sebelum berangkat sekolah namun Ibu selalu melarangnya dan mengatakan "Biarlah Dita saja yang menyapu toh dia juga sudah besar sudah sewajarnya , jika Fia yang melakukan pekerjaan tentunya dia akan kesulitan." Begitu setiap hari terjadi dan Ayah pasti mendiamkanku.
   
   "Ayo Dita cepat nanti kesiangan" ujar Ayah.
   "Iya yah tunggu sebentar" timpal Dita sambil berlari menuju mobil.
   
   "Tunggu yah ini Fia antarkan sekalian ke sekolah kesian Fia jika harus naik motor susah." Kata Ibu sambil menggendong diriku menuju mobil Ayah.
  
   "Ibu ini lihat sudah jam berapa kalau harus ke sekolah Fia dulu nanti Ayah sama Dita telat suruh saja dia naik angkutan umum." Ujar Ayah sambil menjalankan mobilnya keluar dari rumah.
   
   "Fia maafkan ayahmu itu ya tak usah masukan ke hati ayo Ibu antar kamu ke sekolah naik angkot saja ya." Aku hanya bisa mengangguk menyembunyikan kesedihanku dan sampai akhirnya aku tiba di sekolah diantarkan oleh Ibu sampai kelas. 

   "Eh Fia anak cacat udah datang.” ucap Lita yang selalu mengejekku. Aku hanya bisa diam diperlakukan seperti itu oleh Lita ataupun teman-temanku yang lain karena aku berpikir itu memang kenyataan dan aku tidak bisa melawan mereka sampai seorang lelaki datang dan membawaku pergi dari kelas. Dia Alfi cowok cuek namun di balik kecuekannya itu dia anak yang peduli terhadap orang lain.
   
   Alfi membawaku ke taman belakang sekolah lalu membiarkan aku duduk di sana sedangkan dia tidur di salah satu kursi sambil mendengarkan lagu. Suasana pun menjadi canggung aku yang tidak terlalu dekat dengan Alfi bingung harus mengatakan apa. Hingga suara Alfi memecahkan keheningan "Santai aja kali gausah canggung,” ucap Alfi masih dengan mata yang terpejam.

   "Ah iya,makasih udah mau membantuku aku pergi dulu ya," kataku.

   Ketika aku beranjak akan pergi Alfi tiba-tiba memegang tanganku "Sini biar aku bantu." 

   Aku merasa tidak ingin merepotkan orang lain, toh aku bisa sendiri menuju kelas "Tak usah biar sendiri saja,” ucapku sambil pergi meninggalkan Alfi sendirian.
  
  Tak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi, banyak murid berhamburan keluar kelas dengan penuh semangat aku hanya bisa menatap mereka terkadang aku pun merasa iri dengan mereka yang terlahir sempurna. Ketika tiba di depan gerbang aku menunggu Ibu menjemputku namun semakin larut sore Ibu tak kunjung tiba hingga akhirnya aku berjalan menuju halte untuk menunggu angkutan umum. Turun rintik hujan semakin deras aku yang kala itu hanya sendirian merasa takut dan tentu saja kedinginan. Aku mencoba menelepon Ibu namun tidak ada jawaban darisana menelepon Ayah dan Dita tidak mungkin pasti mereka tidak akan menjawabku.Aku saat itu hanya bisa pasrah menunggu hujan reda kemudian naik angkutan umum.
     
   "Fiaa, ayo pulang". Aku yang sedang menunduk pun kaget ketika mendengar suara Alfi 'kapan datangnya Alfi apa karena aku kebanyakan melamun' pikirku
"Terimakasih Alfi tapi aku tidak ingin merepotkanmu aku akan tetap di sini menunggu angkutan umum.” ucapku sambil menunduk menatap jalanan yang basah.
    
   "Kamu liat Fia sekarang sudah jam berapa, aku tidak merasa direpotkan olehmu sudah ayo masuk saja biar aku antar ke rumahmu.” Alfi lalu membawaku masuk ke dalam mobilnya.
    
   Sesampainya di rumah ternyata rumahku kosong tidak ada seorang pun aku bingung kemana perginya semua orang, hinga tiba-tiba saja Alfi masuk rumahku.
   
   "Ada apa Fia dari luar aku melihat kamu kebingungan" kata Alfi
  
    "Iya kemana perginya semua orang aku bingung tidak ada seorang pun yang mengabariku" kataku dengan raut wajah cemas.
  
    "Sudah mencoba menelepon kedua orangtuamu?" Alfi bertanya sembari menatapnya.
  
   "Akan kucoba lagi Ibu tidak mengangkat teleponku begitu pula dengan Ayah dan Dita." Aku balas menatapnya sembari menelpon mereka satu-persatu.
  
   "Yasudah aku akan menemanimu di sini, bahaya sendirian di rumah." Katanya sambil melangkah menuju ruang tamu dan mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi sofa.
   
   Setelah pukul 8 malam akhirnya Ayah dan Dita tiba di rumah, lalu Alfi pun berpamitan pulang. Ayah dan Dita tidak mengatakan apapun kepadaku mereka langsung saja ke kamar masing-masing lalu keluar dengan membawa baju-baju Ibu.
   
   "Ayah mau kemana? Ibu di mana?" tanyaku dengan raut wajah cemas. 

    "Semua salahmu Fia, Ibumu sekarang sedang di rawat di Rumah Sakit." Ucap ayah dengan raut wajah yang marah.
  
   "Apa yang terjadi pada Ibu,mengapa Ibu bisa masuk Rumah Sakit?" aku bertanya dengan sedikit menaikkan nada bicaraku pada mereka.
  
   "Semua salah kamu Fia, sehabis mengantarkanmu ke sekolah Ibu mengalami kecelakaan" timpal Dita dengan wajah memerah kesal.
  
   "Ayah aku ingin melihat Ibu, aku ingin ikut" ucapku sambil menangis. Akhirnya Ayah membawaku menuju Rumah Sakit tempat Ibu di rawat, aku melihat Ibu terbaring lemas di atas kasur, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa berharap Ibu lekas sembuh.

    Hari demi hari Ibu masih saja terbaring di Rumah Sakit dengan kondisi kritis dan setiap harinya Ayah selalu memarahiku mengatakan bahwa aku penyebab ini semua aku anak pembawa sial. Aku selalu termenung sendirian, menangis sendirian, tanpa ada seorang pun yang peduli. Hingga suatu hari  Ibu dinyatakan telah tiada oleh dokter. Mendengar hal itu duniaku terasa hancur aku kehilangan sosok yang menyanyangiku selama ini kepada siapa lagi aku menceritakan segala keluh kesahku ini.
  
   Setelah kepergian Ibu, Ayah tidak mau berbicara denganku begitupula dengan Dita mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai akhirnya Ayah jatuh bangkrut akibat membayar biaya perobatan Ibu. Kami semua pindah ke rumah yang lebih kecil dan makan apa adanya, Dita setiap hari selalu saja menggerutu tidak mau hidup seperti ini. Setiap hari pasti ada saja keributan yang terjadi. Aku hanya bisa melihat pertikaian itu tanpa melakukan apapun terkadang aku merasa malu sebagai anak sulung tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, kebanyakan orang di desa menganggap aku selalu menyusahkan Ayahku tetapi kenyataan nya tidak seperti itu bahkan mereka seringkali membicarakan kekuranganku.

“Kesian ya keluarga Pa Didit, Fia bisa apa dia siapa lelaki yang mau padanya" begitulah omongan para warga yang sering kali aku dengar.

   Setiap aku akan berangkat sekolah selalu ada saja orang yang menghina terhadapku, hinaan itu sudah seperti menjadi makanan keseharianku, aku hanya bisa acuh terhadap perkataan mereka aku harus kuat menghadapi kenyataan hidup ini. Rasanya hidup terasa hampa tidak mempunyai seseorang yang peduli terhadap kita.
   
   “Fiaaaa kenapa kamu, kamu terliat sedih sejak kemarin sudahlah Fia ikhlaskan saja ibumu" ujar Ica sahabatku.

  “Iya caa aku sudah belajar ikhlas kok, ca aku ingin mencari pekerjaan tambahan nih buat bantu-bantu keuangan keluarga," ujarku

  “Yakin kamu Fi? kalau kamu memang menginginkan sebuah pekerjaan kenapa tidak ke Alfi saja coba tanyakan dia pasti tau." Ica memberi saran lewat Alfi.

 “Hmm tapi aku belum melihat dia sama sekali hari ini, kira-kira dimana ya?" aku mengernyit mengingat Alfi karena belum melihat sosok lelaki itu hari ini.

  “Coba saja kamu cari di taman belakang sekolah dia kan sering kesana." Ucap Ica dengan mengarahkan telunjuknya ke arah taman belakang. 

  “Ah iya benar juga kamu ca, aku akan menuju taman belakang." Aku mengangguk mendengar sarannya.
  
 “Sini mari kubantu Fia " sebelum Ica membantuku berdiri, aku menahannya karena tidak mau merepotkannya.

   “Ah tidak usah ca aku bisa sendiri kok, terimakasih ya ca dahhhh." Aku melambai pada sosok Ica yang berdiri memperhatikanku dengan wajah khawatirnya, namun aku memberinya senyum menenangkan.

  Setelah melewati banyak tangga dengan susah payah akhirnya aku tiba di taman belakang sekolah dan benar saja Alfi ada di sana sembari mendengarkan musik dengan mata terpejam. Awalnya aku berpikir untuk kembali tidak menggangu Alfi namun suara kaleng minuman yang tidak sengaja terinjak olehku membangunkan Alfi.
  
 “Fia sedang apa kamu di sini?" tanya Alfi sambil menegakkan badannya, menatapku.
  
 “Tidak Alfi aku akan kembali ke kelas,” ujarku dengan wajah malu.
  
    Ketika akan beranjak pergi Alfi langsung saja menahan ku hingga aku sangat gugup sekarang ini. 

   "Tak usah terburu-buru, aku tau kamu pasti ingin membicarakan sesuatu denganku sini duduk dulu," ujar Alfi.
  
   Seketika rasa gugup menyelimutiku, setelah menyuruhku duduk Alfi sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan aku bingung harus memulai darimana untuk berbicara dengannya. Setelah menyusun  kata yang menurutku tepat akupun memberanikan diri untuk berbicara lebih dulu.

  “Alfi, aku ingin meminta bantuanmu" ujarku sambil menahan suara agar tidak bergetar. Ya tuhan aku gugup sekali. Padahal aku hanya ingin meminta bantuan padanya, gumamku meringis.
  
 “Apa.. kamu mau minta apa?” jawab Alfi masih dengan sikap acuh tak acuh. Sikapnya membuatku tambah gugup meminta bantuan padanya.
  
 “Jadi gini, aku ingin mencari pekerjaan yang sekiranya cocok untukku dan tidak memberatkanku. Aku ingin membantu keuangan keluargaku, Ayah dan Dita selalu saja ribut masalah uang. Alfi kamu bisa tidak membantu untuk mencari pekerjaan  untukku?" tanyaku dengan wajah memelas menatapnya.

“Oh masalah itu tenang saja aku punya banyak kenalan, tapi  Fia apa kamu yakin akan bekerja? maaf ya Fia bukan maksud aku merendahkanmu namun melihat dari kondisimu seperti itu aku khawatir." Alfi terlihat dari nadanya dia sebisa mungkin menjaga kata-katanya agar terlihat tak menyakitiku.
  
 “Tenang saja Alfi aku pasti bisa kok jangan liat fisik ku ini, aku pasti bisa membantu mereka." Ucapku dengan semangat, dan bersikap semeyakinkan mungkin  agar Alfi mau membantuku.
   
“Baiklah jika itu maumu, aku akan mencari pekerjaan yang cocok untukmu" Alfi tersenyum padaku, lalu dengan perlahan aku menarik kedua sudut bibirku membalas senyumannya.

  "Terimakasih telah mau membantuku, Alfi." aku menatapnya bersyukur, semoga saja ada pekerjaan yang memang sekiranya cocok untukku. Dan Alfi terlihat mengangguk sebagai jawabannya.

   Hari berikutnya aku telah menyelesaikan tugas kelompokku, mungkin tidak bisa juga disebut tugas kelompok karena yang mengerjakannya hanya aku seorang diri tanpa dibantu oleh anggota yang lain. Mereka hanya menumpang nama, dan sejujurnya aku lebih baik mengerjakan tugas individu saja daripada berkelompok seperti ini. Toh kelompok atau tidak sama saja, karena pada dasarnya hanya aku yang mengerjakannya.

   Dengan sedikit tergesa aku merapihkan beberapa barang yang sedikit berantakan di atas meja kelasku, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 16.25 WIB dan itu sudah sangat sore juga kemungkinan orang-orang yang melakukan sesi eskul telah selesai dengan kegiatannya. Di luar juga sudah lumayan gelap pertanda hujan akan segera turun. Setelah menggendong tas sekolah  aku segera berjalan keluar dengan cepat.jangan sampai tertinggal angkutan umum dan juga jangan sampai kehujanan terlebih dulu. Gumamku sambil berharap.

   Dengan langkah tangan yang tergesa aku sedikit menambah kecepatan tanganku agar segera sampai di halte sekolah dan menunggu angkutan umum yang biasanya lewat. Tetapi entahlah jika sudah jam segini masih ada atau tidak.

Lima menit...

Sepuluh menit...

Lima belas menit...

   Dengan wajah yang hampir menangis aku terus berdoa dalam hati agar angkutan yang aku tunggu cepat datang, namun apakah aku harus menapak langkah lagi menuju rumah dengan cuaca yang hampir hujan. Bagaimana ini ya Allah aku bingung.

   Dengan wajah yang terlihat muram aku dengan terpaksa menapak jalan dengan telapak tanganku lagi sambil berharap cemas agar hujan tak turun.

   Entah aku yang berjalan sambil melamun atau apa, namun aku dikagetkan dengan sebuah klakson mobil yang berbunyi nyaring dibelakangku, membuatku menoleh ke arah belakang. Dengan kening yang berkerut aku melihat seorang lelaki keluar dari pintu kemudi.

   Alfi? Dia kenapa bisa disini?

   Aku memutar arah menghadapnya. "Alfi kamu kenapa di sini?"

  "Memang kenapa apa aku tidak boleh di sini? Ini wilayah umum " dengan tubuh yang menyender pada badan mobil dia mengedikkan bahunya acuh.

   Aku menipiskan bibirku kehabisan kata-kata. "Kalau begitu aku pamit dulu, dan juga hati-hati berkendaranya." Aku tersenyum padanya.

   Dengan tubuh yang hampir sepenuhnya berjalan, namun panggilan Alfi yang memanggil namaku membuatku membalikkan badanku menatapnya dengan bertanya. 

   "Aku akan mengantarmu pulang, ini sudah terlalu sore. Lagipula ada apa denganmu yang baru pulang jam segini? Apa kau punya sift berjaga sebagai satpam sekolah?" nada yang Alfi gunakan seperti ia sedang marah, tetapi bukankah aku tidak pernah mencari masalah dengannya? Entahlah dia membingungkan.

   "Ahh.. aku pulang sendiri saja, lagi pula bukannya arah rumah kita berbeda? Aku bisa jalan sendiri kok." Aku tetap pada pendirianku untuk pulang sendiri. Namun mungkin watak seorang Alfi itu tidak pernah mau mendengarkan perkataan seseorang dan juga seorang pemaksa sekaligus keras kepala. Dia mengangkatku dengan mudah dan menempatkanku di kursi samping pengemudi, yang tentu saja membuatku terkejut setengah mati. Apa-apaan itu tadi?

   Setelah dia berhasil mendudukanku di kursi mobilnya, ia menutup pintu lalu berjalan mengelilingi mobil dan setelahnya ia masuk ke dalam mobil. Menyalakan mobilnya dan perlahan berjalan. Tidak lama setelah itu hujan dengan perlahan turun jatuh membasahi tanah dan menghantam kaca depan mobil. Melihat itu aku berhela nafas karena bersyukur tidak kehujanan.

   "Jika aku tidak menggendongmu tadi aku yakin kamu sudah kebasahan sedari tadi. Jadi jika ada seseorang yang kamu kenal menawarkan kebaikkan jangan menolaknya. Jika nantinya kamu akan menyesal." Ucapnya sedikit terdengar ketus menurutku.

   Aku mengatupkan bibirku tidak berani membalas perkataannya, selain hanya mengangguk saja. "Ah ya aku baru ingat, ibuku memiliki restoran dan dia membutuhkan seorang pegawai, jika kamu tidak keberatan aku aka-

   Dengan cepat aku memotong ucapannya, walau terdengar tak sopan. Tapi  karena aku terlalu antusias, aku mengabaikannnya dan mengangguk dengan semangat. " Aku mau, mau sangat. Walau hanya ditugaskan sebagai tukang cuci piring pun aku tak apa."

   Dan benar terlihat Alfi menatapku dengan sedikit aneh, "Tidak mungkin aku memperlakukanmu dengan sebagai pencuci piring. Aku tau kamu bisa memasak, nanti aku akan membicarakannya pada ibuku setelah itu aku akan mengabarimu."

   Dengan semangat aku mengangguk bahagia. "Terima kasih Alfi, dengan mengabaikan rasa malu aku tersenyum lebar padanya, walau tau mungkin aku akan terlihat aneh dimatanya, dan juga mengabaikan fakta bahwa aku belum di terima kerja tapi tidak ada salahnya berterima kasih bukan?

   Alfi menjawab dengan deheman saja tanpa membalas senyumanku, dia terlihat fokus pada jalan yang terlihat di terpa hujan. Setelahnya hanya keheningan yang ada di dalam mobil ini, aku sibuk melihat jalanan di sampingku sedangkan Alfi fokus mengendarai mobilnya, setelah lama di perjalanan yang tidak disangka terjebak macet, akhirnya sampai juga dengan selamat dirumahku, terlihat hujan belum juga reda tapi tak sehebat tadi saat kami masih diperjalanan.

   "Terima kasih Alfi telah mengantarku dengan selamat sampai ke rumah, hati-hati di jalan juga jangan mengebut." Aku melambai padanya sebelum itu aku memberi senyuman padanya dan kali ini dia membalas dengan senyum yang tipis dan menawan. Tiba-tiba pipiku panas. Apa-apaan dengan pikiran bodohmu itu, Fia?

   Dia berlari dengan jaket yang ia jadikan sebagai payung di atas kepalanya, ah aku lupa dia menggendongku lagi dari mobil menuju teras rumahku. Dan itu membuat jantungku lagi-lagi berdetak tidak beraturan seperti biasanya, dan itu menyebalkan.

   Sebelum masuk ke dalam rumah aku menampar pipiku pelan agar berhenti berkhayal yang tidak-tidak, "Assalammualaikum Fia pulang."

   Suasana rumah terlihat sepi entah kemana Dita dan Ayah  di ruangan utama pun mereka tidak ada. Kemana mereka?

   "Udah pulang, huh? Darimana saja, sudah tau kita sedang kesusahan tapi kamu justru keluyuran tidak penting, apa kamu abis mengemis di pinggir jalan? Kalo begitu mana hasil uangnya?" tiba-tiba dari arah kamar mandi yang terletak di dapur Dita keluar lengkap dengan pakaian tidurnya. Ternyata dia habis mandi, dan perkataannya membuatku tertohok walau sudah terlalu biasa aku mendengar cemoohan darinya.

   "Aku baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok, bukan mengemis Dita." Aku berkata dengan lirih padanya.

   "Huh, dasar tidak berguna. Belajar kelompok tidak membuatmu menghasilkan uang, tau!?" setelah mengatakan itu Dita berlalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri di depan pintu.

   Aku menghela nafas sembari berjalan menuju kamarku, ingin rasanya cepat mengistirahatkan badanku yang lelah. Saat ini aku dengan perlahan menaiki kasurku, lalu membaringkan tubuhku yang sangat lelah ini rasanya seperti kamu berada di pangkuan ibumu sembari mengelus rambut terasa menyenangkan dan menenangkan, aku jadi merindukan ibu.

   Dan ibu tolong doakan aku supaya besok menjadi hari yang lebih baik, aku merindukanmu.

   Dengan mata yang semakin tidak bisa aku ajak kerja sama dengan perlahan mata ini membawaku kembali ke alam mimpi.

   Pagi hari berikutnya seperti biasa aku telah menyiapkan sarapan untuk ayah dan Dita yang sedang sibuk dengan urusannya pagi itu, dan juga aku telah menyiapkan bekal untukku sendiri. Aku telah mengakhiri sesi sarapanku dengan sendiri karena mereka mungkin akan berangkat bersama agak siang, dan tidak mungkin juga untuk mengajakku. Maka dari itu aku lebih memilih memakan sarapan lebih pagi dan menulis sepucuk surat yang sudah bisa aku tebak akan berakhir di tempat sampah.

   Dengan langkah yang sedikit dipercepat aku berjalan ke arah halte menunggu angkutan umum yang biasanya lewat di halte dekat rumahku. Setelah sampai aku menengok ke arah kanan dan kiri untuk mencari angkutan karena takut tertinggal dan bisa-bisa telat. Walau mungkin tidak bisa dikatakan telat karena ini terlalu pagi untuk dikatakan sebagian orang.

   Dari kejauhan aku melihat angkutan umum, dengan tersenyum tipis aku menunggu datangnya dan semoga saja supir itu melihatku dari dalam mobilnya. Dan dengan rasa syukur doaku tercapai karena mobil ini datang tepat di tempatku berdiri. Dengan kebaikan sang supir yang menawarkan bantuan untuk membantuku masuk ke dalam angkutan umum aku sedikit menolak dengan senyuman ramah bahwa aku bisa naik dengan sendiri.

   Sepanjang jalan aku memilih melihat pemandangan di luar jendela, belum banyak yang berada di angkot ini, hanya berisi beberapa orang saja. Aku, sang supir, ada juga ibu-ibu yang bisa aku tebak baru pulang dari pasar dan juga ada dua anak SMP di dalamnya. Dan untungnya mereka tidak memandangiku dengan tatapan risih namun mereka menatap dan juga mengajakku mengobrol.

   Setelah sampai, aku berjalan di sekitaran lorong dan menampilkan senyum pada penjaga kebersihan sekolah yang juga membalas sapaan senyumku. Sekolah masih sepi mungkin hanya aku yang baru datang dan beberapa anak OSIS yang memang sudah tugasnya untuk datang pagi hari.

   Aku masuk ke dalam kelas yang masih sangat sepi mendudukkan diriku di kursi dan mengeluarkan beberapa buku dan aku mempelajari bab yang akan di bahas nantinya.

   Sesaat sedang asik membaca materi aku dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang langsung menduduki tubuhnya di bangku sampingku yang padahal bangku itu milik Ica. Alfi ternyata aku kira siapa, karena jika orang lain aku akan terkejut karena biasanya mereka ingin duduk denganku walau hanya sementara.

   Tetapi tunggu dulu, aku melihat pada jam dinding yang berada dii atas papan tulis masih jam 06.50 WIB dan kenapa dia sudah datang sepagi ini? Aku menipiskan bibirku dan mencoba acuh padanya yang juga sedang menutup kedua matanya sembari mendengarkan musik lewat earphone yang terpasang di kedua telinganya.

   Aku kembali fokus pada buku bacaanku namun pada beberapa menit hening dia lalu membuka suaranya,  "Kamu tidak bertanya kenapa aku bisa datang sepagi ini? bukannya kamu itu orang yang sangat penasaran bukan?"

   Aku menoleh ke arahnya sambil memicingkan sedikit mataku, kenapa dia ingin sekali aku tanya, huh? 

   Sebelum menjawab aku mengernyitkan dahiku. Sedikit berdeham, "Memang kenapa juga aku harus bertanya itukan hakmu untuk datang lebih awal." 

   Alfi terlihat sedikit berpikir, ntah memikirkan apa yang jelas aku kembali menyibukkan diriku dengan buku bacaan di atas mejaku. "Kamu beneran tidak ingin bertanya tentang suatu hal, seperti apakah aku telah mendapatkan pekerjaan untukmu atau belum?" seketika aku menoleh dan dengan refleks menutup buku bacaanku, melihat reaksiku seperti tadi Alfi mengedikkan bahunya dan perlahan berdiri. "Jika tidak mau mendengar yasudah aku pergi dulu."

   Aku menatapnya dengan tatapan memelas dan dengan refleks pula aku memegang tangannya yang hampir berjalan meninggalkanku. "Jangan pergi dulu, katakan apakah aku telah di terima atau belum?"

   Alfi menatapku dengan geli lalu kami diam saling menatap satu sama lain juga tanganku yang masih memegangnya. Dia berdehem dan membuatku melepas tanganku dan memalingkan wajahku malu darinya. Dan Alfi kembali mendudukan tubuhnya lagi, "Kamu diterima di restoran ibuku, dan juga dia ingin bertemu denganmu sepulang sekolah ini."

   Aku menoleh padanya, memandangi dia dari samping entah mengapa membuat dadaku berdebar tidak seperti biasanya, aku menjadi gugup.  "Ta-tapi aku cacat apa ibumu tak keberatan, kenapa aku menjadi gugup seperti ini? "

   Lalu dengan tiba-tiba dia menoleh membalas tatapanku yang sedang menatapnya, dengan cepat pula aku memalingkan wajahku ke arah yang berbeda darinya. Dia diam saja tidak menjawab pertanyaanku, kenapa?

   Aku menoleh lagi menatapnya tetapi mungkin itu kesalahan bagiku, karena saat aku menoleh dia sedang menatapku dengan intens, aku semakin gugup dibuatnya. Kenapa dia memandangiku seperti itu? 

   "Ibuku tidak melihat kamu dari cacatmu tapi dia melihat dari kinerjamu nanti, tapi mungkin kamu harus profesional nantinya jika ingin bekerja di restoran ibuku, dia orang yang tegas dan tidak memandang kelemahan orang." Ucapnya dengan sedikit tegas.

   "Tentu aku akan dengan senang hati bekerja di restoran Ibumu dengan profesional, karena jujur aku juga tidak suka merasa di kasihani oleh banyak orang. Aku menatapnya yang juga sedang menatapku, Terima kasih ya Alfi."

   Alfi mengangguk dan bersamaan dengan itu murid yang lain masuk ke dalam kelas, dan satu persatu dari mereka menatapku sinis karena sedang duduk berdua dengan Alfi. Melihat itu aku langsung meminta Alfi pindah dari duduknya, namun dia mengacuhkan dan malah menenggelamkan mukanya dalam lipatan tangan yang di telungkupkan di atas meja.

   "Si Alfi ngapain dia duduk sama cewe cacat itu? Aku takut dia kebawa ikutan sial nantinya”
  
   "Gatau deh mungkin si cacat itu yang cari perhatian sama Alfi, centil banget sih jadi orang."

   "Tau ya, udah cacat mah udah aja jangan di tambah jadi centil juga, sok banget jadi orang."

   Bisik bisik terdengar dari mereka yang memperhatikan aku dan Alfi. Mungkin bukan hanya aku yang mendengarnya namun beberapa saat kemudian Alfi berdiri dari posisinya sambil menggebrak meja membuatku dan orang orang yang membicarkanku tadi tersentak kaget. 
   
   "Ternyata kalian lebih buruk dari seorang gadis cacat, kalian hobi membuat masalah dengan mulut kalian yang faktanya gatau apapun. Jadi dari pada mulut itu di pakai oleh sesuatu yang tidak berguna lebih baik tutup mulut dan diam saja." Alfi mengatakan itu dengan ketus lalu melangkah keluar sambil menutup pintu dengan agak keras. Dan untuk kesekian kalinya dia membuat aku dan yang lainnya tersentak kaget.

   Mereka yang tadinya berlomba mencibirku menjadi diam dan melakukan segala aktivitasnya namun sebelumnya mereka menatapku tajam sembari mendengus tak suka, dan aku kembali menunduk tak berani berbuat apapun.

   Alfi mengapa dia melakukan itu, apa untuk membelaku? Pikiranku kembali memikirkan hal yang tidak mungkin namun dengan segera aku mengenyahkan segala pemikiran itu, dan lebih memilih membaca materi sembari menunggu pelajaran di mulai.

   Pukul dua siang tepat kami sudah membubarkan diri dari sekolah, aku sudah berpisah dengan Ica yang di jemput oleh kakaknya. Dan sesuai janji aku menemui Alfi untuk berangkat ke tempat kerjaku bersama-sama. Aku sudah berada di kursi samping penumpang bersama Alfi yang fokus mengendarai mobilnya, di dalam mobil hanya terdengar suara radio yang di putar oleh Alfi yang berisi beberapa lagu. Aku hanya diam sambil memikirkan apa yang akan aku bisa perbuat nanti saat sampai di restoran milik ibunya, aku takut ibunya tak menerimaku untuk bekerja disana.

   Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh dari sekolah akhirnya kami sampai di sebuah restoran yang tidak besar namun bisa di kategorikan nyaman, dari gaya yang di tampilkan di luarnya sangat klasik dan tidak terlalu mewah.

   Aku turun dari mobil dengan bantuan Alfi yang menggendong badanku turun dari mobil. Sungguh tanpa sadar pipiku memanas dengan perilakunya yang tanpa aba-aba itu, seperti ada perasaan aneh yang menyusup di dada dan juga sulit diungkapkan. Seperti itulah gambarannya.

   Dan kesialannya juga beberapa pengunjung yang datang singgah ke restoran itu memperhatikanku dengan tatapan yang mengernyit keheranan. Huh, tanpa sadar aku menghela nafas gusar. Lalu dengan kecanggungan yang masih menyelimuti kami aku berjalan dibelakangnya mengikuti arah jalannya.

   Setelah sampai di sebuah pintu, aku dipersilahkan masuk oleh Alfi, lalu dengan gugup pun aku mematuhinya. Disana terlihat seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursi yang terhalang meja sembari membaca sebuah kertas yang aku yakin seperti sebuah laporan mungkin.

   “Bun, Alfi pulang." Alfi berucap setelah melemparkan tasnya ke sofa yang berada di ruangan itu, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa. Matanya lalu melirikku seperti memberi tanda bahwa aku juga harus duduk.

   Wanita itu, ah ibu Alfi mendongak menatap anaknya dengan kaca mata yang melorot dihidungnya. Menatap tajam anaknya itu. 

   "Se-selamat siang tan-tante." Sapaku gugup. Aku bingung harus memanggilnya apa.

   Matanya yang semula menatap anaknya itu kini mengalihkan matanya ke arahku, aku mengigit bibirku. Apakah aku akan diterima disini? Mengapa aku menjadi pesimis seperti ini.

   Namun aku salah, ibu Alfi yang belum kuketahui namanya itu malah tersenyum lembut dan berdiri lalu menghampiriku, dengan lembut mengajakku duduk di sebuah sofa. "Hallo Fia, benar?"

   Aku tersenyum mendengarnya, aku kira dia tidak akan menyukaiku karena ya begitulah. Suaranya mengingatkanku pada ibuku, ah aku jadi merindukannya.

 "I-iya, tante- emm." Aku meringis bodoh karena saking gugupnya, dan ku lihat Alfi dan ibunya tersenyum geli karena cicitanku.

   “Panggil saja bunda seperti Alfi, ya. Oh ya nama bunda itu Ririn. Jangan sungkan ya Fia, kamu bisa mulai bekerja besok untuk sekarang bunda akan memperkenalkanmu dengan beberapa karyawan dan letak dapurnya ya. Karena dengar dengar nih kamu bisa memasak kan ya?" Bunda emm, mungkinkah aku harus memangginya bunda? Dia dengan ramah ingin membantuku beradaptasi dengan lingkungan di sekitar.

   Aku mengangguk mendengarnya, "Tapi bun- em apa aku tidak akan merepotkan nantinya? Aku bisa saja menyusahkan orang di dapur jika saja aku melakukan hal yang mungkin merugikan mereka?" Aku mengigit bibirku, cemas juga dengan pikiranku. Namun berbeda hal dengan bunda Ririn ia malah tersenyum padaku.

   "Kamu tidak merepotkan kok, jika kamu tidak ingin di pandang rendah oleh orang lain kamu harus membuktikannya pada mereka bahwa kamu bisa, tenang saja jika kamu merasa kesulitan kamu bisa memberi tahu bunda atau pun Alfi. Dengan senang hati bunda akan membantu begitupula Alfi." Alfi yang daritadi diam memperhatikan kini mulai menganggukan kepalanya.

   "Jangan sungkan." Ucapnya singkat.

   Setelah percakapan singkat itu, aku di temani oleh bunda dan Alfi mengelilingi tempat di restoran ini, lalu dengan ramah pun aku di ajak makan oleh mereka yang tadinya akan aku tolak sebab akan merepotkan nantinya, namun mereka memaksa dan pada akhirnya aku ikut juga.
   
   Hari pertama aku bekerja di restoran milik Ibu Alfi banyak karyawan yang mencibirku.

 “Bu Ririn seriusan menerima gadis cacat itu sebagai karyawan kerja di sini?"

   Tiba tiba saja aku menghentikan tatapanku pada 3 orang gadis yang sedang membersihkan nampan dan beberapa piring juga gelas. Lagi aku mendapat cibiran dimana-mana, padahal aku kesini untuk melamar pekerjaan bukan menyusahkan mereka.

   Apa coba nantinya yang bisa dia bantu di sini, menyusahkan saja. Pekerjaan kita saja sudah repot mengurus dapur dan sekarang harus mengurus gadis itu yang pastinya akan menyusahkan bukan membantu.Gadis berkuncir kuda itu lalu tanpa sengaja menolehkan tatapannya padaku dan dengan jelas aku melihatnya menyikut teman temannya yang lain agar menghentikan omongannya ketika aku mulai menuju ke arah mereka.

   Aku berpikir sembari menghela nafas, kenapa semua orang selalu memandang diriku sebelah mata? Melihat sebagai pribadi yang merepotkan kebanyakan orang, jika boleh mengeluh aku juga tidak ingin seperti ini. Namun takdir sudah di atur dan kita harus selalu bersyukur dengan itu. 

   Aku yang tengah duduk di luar dapur kini menatap ke samping dimana Alfi tengah menatapku lekat. Lelaki ini selalu saja berbuat ulah pada jantungku, dia selalu berdebar hanya dengan menatap Alfi. Sadarkan dirimu, Fia!  Ucapanku dalam hati mengingatkan. 

   Aku berdehem untuk menetralkan debaran jantungku. "Tunggu sebentar," Alfi kemudian bangkit menuju para karyawan yang masih memperhatikanku dengan tatapan mereka yang kentara tidak menyukaiku. 

   Aku mengangguk walau mungkin dia tak tau karena keberadaannya sudah terhalang pintu kaca yang menjadi pembatas tempatku duduk dan juga dapur. 
  
   Aku memperhatikan dari luar yang entah perasaanku saja atau bukan jika semua karyawan di dapur mereka sedang menunduk seperti Alfi sedang memarahi mereka, tapi kenapa? Lalu disaat Alfi menolehkan kepalanya menatap ke arahku dengan cepat aku mengalihkan tatapanku ke arah lain. 

   Selang beberapa menit setelahnya aku yang telah melamun di kagetkan dengan deritan pintu yang terbuka, dan menemukan Alfi yang tengah berjalan ke arahku, saat tatapanku melihat keadaan dapur mereka semua tersenyum kepadaku. Aku mengernyit ada apa dengan mereka? 

   "Maaf membuatmu menunggu lama," Alfi kembali duduk disebelahku, aku melihatnya kemudian mengangguk. 

   Aku memilih bibir bawahku, menimang untuk bertanya atau tidak padanya. "Hmm, boleh aku bertanya?"

   Setelah menimang beberapa saat lebih baik aku menanyakannya, lalu sesaat setelah melontarkan kalimat itu aku melihatnya menganggukkan kepala. "Sedang apa kamu tadi di dalam dapur? "

   Jarinya mendadak berhenti saat sedang memainkan ponselnya, namun hanya sesaat kemudian dia asik memainkan ponselnya daripada menjawab pertanyaanku. 

   Setelah beberapa menitpun dia belum mau menjawab pertanyaanku, entah apa yang dipikirkannya namun kini dia bangkit berdiri menyimpan ponsel ke dalam sakunya kemudian mengajakku pulang, dan mungkin dengan bodohnya lagi aku mau saja mengikuti ucapannya. 

   Keesokan harinya setelah sepulang sekolah aku bekerja di restoran milik ibu Alfi aku memasak dengan cukup serius dan secara profesional, walau aku masih kebingungan karyawan di sini memyambutku dengan ramah walau tanpa basa basi juga aku sedikit menangkap bahwa keramahan itu sedikit terpaksa mungkin. 

   Tetapi untunglah selama aku bekerja aku tak terlalu kesulitan untuk melakukannya dan itu setidaknya aku tidak merepotkan orang-orang di sini. Dan juga aku bekerja hanya sampai jam 8 malam, jika hari libur aku bekerja dari pagi hari sampai jam 10 malam, itulah yang dikatakan Bu Ririn  padaku, tadinya dia hanya ingin aku memakai sift siang saja, namun aku menolak karena aku masih mampu bekerja. Dan Bu Ririn pun menyetujuinya.

   Juga Alfi aku tidak menyangka bahwa dia bekerja di restoran ibunya sendiri menjadi asisten koki utama disini, entah sudah berapa kali aku di buat kagum olehnya. 

   Minggu sudah berganti menjadi bulan terhitung aku sudah 3 bulan bekerja di restoran ibu Alfi, dan untunglah aku juga tidak merasa terganggu oleh pekerjaan ini terhadap sekolahku. Dan justru aku merasa  bersemangat untuk hal ini. Aku juga semakin dekat dengan Alfi dan beberapa karyawan disini.

   Hari ini sabtu sore aku sedang menyiapkan dessert untuk hidangan yang di pesan oleh beberapa pelanggan. Aku sedang memilih topping yang cocok untuk di hias di atasnya, 

"Apa aku sebaiknya menata jeruk saja ya? Tapi beberapa irisan buah apel juga terasa lebih pas?" Aku mungkin terlalu larut dalam pikiranku sampai tanpa sadar Alfi mengejutkanku dari belakang.

   "Kamu mengagetkanku, jangan seperti itu." ucapku dengan tegas dan Alfi hanya tersenyum.

   "Jika kamu kebingungan menentukan topping, gunakan saja keduanya. Itu terlihat cocok kok." Setelah mengatakan itu dia mengacak rambutku dan berlalu pergi.

   Ah aku belum bilang juga bahwa sikapnya semakin manis saja, dan itu membuatku jatuh hati padanya namun aku tidak berharap lebih padanya. Aku tau diri.

   Dengan mengikuti sarannya aku lalu menata dua topping itu di atas dessertnya, setelah jadi aku membawa kue itu kepada karyawan yang khusus untuk mengantarkannya. 
  
   Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan restoran diumumkan untuk tutup lebih awal malam ini. Aku mengambil barang yang akan kubawa pulang dan pada saat keluar aku dikejutkan oleh Alfi yang tengah menungguku, aku tersenyun padanya. Lalu dia mengajakku ke suatu tempat dengan mobilnya.

   Tempat ini tidak jauh namun memiliki pemandangan yang cukup indah seperti perbukitan kecil yang dibawahnya menampilkan lampu-lampu kota pada malam hari. 

   "Kenapa kita kesini? " aku bertanya setelah kami terdiam cukup lama.

   Dia menutup mata sambil mendongak, aku masih menatapnya menunggu jawaban. Dengan tiba-tiba dia membuka mata dan menoleh ke arahku, Alfi mengarahkan telunjuknya pada sebuah pohong yang  cukup besar, "Coba kamu ke belakang pohon itu." ucapnya.

   Aku mengernyit kenapa dia berubah menakutkan "Memang ada apa?"

   "Ada yang menunggumu di sana," ucapnya sambil menyeringai.

   Aku refleks memukulnya, "Jangan menakutiku."

   "Sudahlah cepat sana," suruhnya yang kali ini tersenyum meyakinkan. Dengan perlahan aku mengahampiri pohon yang ia tunjukkan dengan rasa yang campur aduk aku menemukan sesuatu benda yang lumayan besar yang ditutupi dengan sebuah kain berwarna putih. 

   "Buka," aku menatapnya yang kini berada di belakangku. 

   Dengan tangan yang gemetar aku membuka kain itu, mataku membulat tanpa sadar. Di balik kain itu ada sebuah kursi roda dan juga sepasang tongkat.

   "Untuk apa semua ini?" aku bertanya.

   "Sekarang tanggal berapa?" dia bertanya balik membuatku berdecak. 

   "19 oktober,"

   "Bukankah sekarang adalah hari ulang tahunmu? Dan barang ini adalah hadiah yang kusiapkan untukmu, jangan menolak karena aku tidak suka. Dan selamat ulang tahun, Fia." ucapnya panjang diakhiri dengan senyum yang menawan. 

   "Aku bahkan tidak tahu hari ini ulang tahunku." aku menatapnya berkaca-kaca. 

   "Terimakasih."

   Alfi mendudukanku pada kursi roda itu lalu membawaku melihat lampu-lampu kota, "ada yang ingin aku katakan Fia,"

   Dia berlutut mensejajarkan badannya denganku. Matanya menatapku di bawah sinar bulan dan sebuah lampu. Dia menghela nafas, kemudian meraih jariku. "Aku menyukai sifatmu yang dengan tegar bisa hidup di tengah rintangan yang setiap saat datang padamu. Aku menyukai pada setiap apapun yang kamu lakukan, ketika dirimu tidak peduli pada semua orang yang menghinamu, yang dengan percaya diri menunjukkan diri kamu tanpa menutupi kekurangan. Jadi kali ini aku memberanikan diri untuk mengungkapkan ini aku menyukaimu Fia.."

   Ada jeda saat Alfi akan melanjutkan dan entah kenapa air mataku perlahan jatuh bukan sedih karena hal yang buruk namun sedih karena perkataannya benar-benar terdengar tulus. 

   "Aku ingin kamu menerimaku saat aku mengatakannya. Namun aku terlalu takut kamu menolakku, karena kamu tidak percaya. Namun Fia percayalah walau kita masih SMA aku benar-benar ingin kita sama-sama saling menguatkan. Dan aku akan selalu menjagamu, jadi apa jawabanmu?" genggamannya perlahan mengerat, aku masih bungkam dengan tangisan yang semakin kencang.

   "Tidak ada alasan bagiku untuk menolak, Al. Aku kira hanya aku saja yang menyukaimu dan aku senang akan perkataanmu malam ini. Ketahuilah kado ini adalah kado terindah yang pernah aku terima, terimakasih."

   Kami saling melempar senyum pada akhirnya. Malam ini begitu indah dan semoga di malam-malam selanjutnya tuhan memberi kebahagiaan seperti ini bersama Alfi tentunya. 





Komentar

Posting Komentar